Tampilkan postingan dengan label MAKNA KATA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MAKNA KATA. Tampilkan semua postingan

JENIS-JENIS PERUBAHAN ATAU PERGESERAN MAKNA KATA

Dalam bahasa Indonesia, terdapat beberapa kata yang mengandung makna lebih dari satu ketika digunakan dalam konteks kalimat yang berbeda. Perbedaan makna dapat timbul karena beberapa faktor seperti proses penambahan awalan, pengurutan kata, intonasi, hingga tanda baca yang berbeda. Tak hanya berbeda, makna yang terkandung pada sebuah kata juga dapat berkembang dan mengalami perubahan. Pada kesempatan ini kita akan membahas beberapa jenis perubahan makna, dan faktor yang menyebabkan perubahan.

Penyebab Perubahan Makna Kata

Secara umum, perubahan makna dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut ini :
  1. Proses gramatikal 
    Adanya afiksasi, reduplikasi, dan komposisi dalam proses gramatikal menghasilkan makna-makna gramatikal yang berubah dari makna sebelumnya. Misalnya pemberian awalan ter- pada kata "terjatuh" menimbulkan makna gramatikal tidak sengaja.

  2. Perkembangan ilmu dan teknologi
    Perubahan makna suatu kata juga dapat timbul akibat perkembangan ilmu dan teknologi. Misalnya kata "layar" yang dulu dikaitkan dengan kapal tetapi sekarang lebih identik dengan barang elektronik seperti layar televisi atau layar komputer.

  3. Perbedaan sosial budaya
    Berbedanya latar sosial dan budaya di berbagai tempat menyebabkan perubahan makna pada kata-kata tertentu. Misalnya kata "kamu" di beberapa daerah menunjukkan satu orang tetapi di beberapa daerah lain, kata kamu bisa menunjukkan beberapa orang sekaligus.

    jenis perubahan makna

    Pandangan hidup dan ukuran norma dalam masyarakat kadangkala menyebabkan suatu kata memiliki nilai rasa rendah (kurang menyenangkan) atau justru menjadi memiliki nilai rasa tinggi (menyenangkan). Misalnya kata "bini" yang dinilai lebih rendah daripada kata "istri".

  4. Konteks kalimat
    Konteks kalimat memiliki pengaruh kepada perubahan makna secara kontekstual yaitu adanya hubungan antara ujaran dan situasi pada waktu ujaran dipakai. Misalnya kaki adik terkena duri saat melintasi kaki gunung.

  5. Perbedaan penafsiran
    Perbedaan penafsiran sama halnya dengan perbedaan referen atau sumber yang dijadikan acuan dalam mengartikan suatu kata. Misalnya makna kata gaya dalam ilmu fisika berbeda dengan kata gaya dalam bidang fashion karena referennya sudah jauh berbeda.

  6. Proses asosiasi
    Proses asosiasi atau mengaitkan suatu kata berdasarkan pesamaan sifatnya menimbulkan makna yang berbeda. Misalnya kata kursi dan kata jabatan. Asosiasi kedua kata tersebut menimbulkan perubahan makna pada kata kursi yang berarti kedudukan.

  7. Proses penyingkatan
    Proses penyingkatan adakalanya menyebabkan suatu singkatan kata lebih sering digunakan daripada kata sebenarnya. Misalnya kata meninggal yang merupakan bentuk penyingkatan dari meninggal dunia. Karena biasa digunakan, kata meninggal memiliki makna yang sama dengan meninggal dunia.

  8. Pertukaran tanggapan indera
    Dalam penggunaan bahasa, adakalanya terjadi pertukaran tangaapan indera yang satu dengan indera lainnya misalnya kata "pedas" yang seharusnya ditanggapi oleh indera pengecap yaitu lidah tertukar menjadi ditanggapi oleh indera pendengaran atau telinga untuk menjelaskan kata-kata yang pedas.

Jenis-jenis Perubahan Makna

  1. Membaik (Amelioratif)
    Ameliorasi adalah proses perubahan makna yang menyebabkan makna sekarang dirasakan lebih baik atau lebih tinggi daripada sebelumnya. Misalnya :
    • Tuli >> tuna rungu. ↑
    • Bini >> istri, nyonya. ↑
    • Perempuan >> wanita. ↑
    • Buta >> tuna netra. ↑
    • Bui >> lembaga pemasyarakatan. ↑
    • Beranak >> melahirkan. ↑

  2. Memburuk (Peyoratif)
    Peyorasi adalah proses perubahan makna yang menyebabkan makna sekarang dirasakan lebih buruk atau lebih rendah daripada sebelumnya. Misalnya :
    • Pergi >> kabur. ↓
    • Sekelompok >> gerombolan. ↓
    • Menurunkan >> melengserkan. ↓
    • Nikah >> kawin. ↓
    • Hamil >> bunting. ↓

  3. Meluas (Generalisasi)
    Generalisasi adalah proses perubahan makna yang menyebabkan makna sekarang lebih luas daripada sebelumnya. Misalnya :
    • Berlayar : kapal layar >> seluruh kapal.
    • Ikan : biota air >> lauk pauk.
    • Ibu : otangtua kandung wanita >> wanita yang lebih tua. 
    • Kepala : anggota tubuh >> ketua atau pemimpin.
    • Jurusan : arah/tujuan >> spesialisai/bidang ilmu yang ditekuni.

  4. Menyempit (Spesialisasi)
    Spesialisasi adalah proses perubahan makna yang menyebabkan makna sekarang lebih sempit daripada sebelumnya. Misalnya :
    • Sarjana : orang pintar >> lulusan strata satu di perguruan tinggi.
    • Pembantu : orang yang membantu >> pekerja rumah tangga.
    • Guru : mengajarkan sesuatu >> pengajar di sekolah.
    • Pendeta : orang pintar >> ahli agama kristen.
    • Madrasah : sekolah >> sekolah berasaskan islam.

  5. Persamaan Sifat (Asosiatif)
    Asosiatif adalah makna yang muncul karena adanya persamaan sifat. Misalnya :
    • Mencatut : menarik >< mengambil yang bukan miliknya.
    • Amplop : surat >< uang sogokan.
    • Kursi : tempat duduk >< jabatan.
    • Parasit : makhluk kecil >> orang yang merugikan.
    • Bunga : kembang >> gadis cantik.

  6. Pertukaran Tanggapan (Sinestesia)
    Sinsetesia adalah makna yang muncul karena pertukaran tanggapan dua indera. Misalnya :
    • Kata-katanya kasar.
    • Suaranya sedap didengar.
    • Kata-katanya pedas.
    • Rencana busuknya tercium.
    • Pendengarannya sangat tajam.

PENGERTIAN DAN CONTOH KALIMAT KONOTASI POSITIF & NEGATIF

Seperti yang telah dibahas pada artikel jenis makna kata, salah satu makna kata yang sering digunakan dalam kalimat bahasa Indonesia adalah makna konotasi atau makna tidak sebenarnya. Makna kiasan memerlukan penafsiran tertentu yang disesuaikan dengan konteks kalimat dan menimbulkan nilai rasa positif ataupun negatif. Ketika suatu kata bernilai positif, maka kata tersebut termasuk kata dengan konotasi positif. Sebaliknya, kata yang menimbulkan nilai rasa negatif merupakan kata konotasi negatif.

Kalimat yang mengandung makna eksplisit atau kiasan disebut kalimat konotasi. Kalimat konotasi merupakan kebalikan dari kalimat denotasi yaitu kalimat yang mengandung makna sebenarnya. Arti dari kalimat konotasi merupakan kalimat denotasi.

contoh kalimat konotasi negatif

Kalimat konotasi yang menimbulkan nilai rasa positif disebut kalimat konotasi positif sedangkan kalimat yang menimbulkan nilai rasa negatif disebut kalimat konotasi negatif. Salah satu contoh konotasi negatif adalah kalimat pada gambar di atas.

Konotasi Positif

Kata/fraseMakna
Buah tanganOleh-oleh
Paman datang membawa buah tangan untuk kakek dan nenek.
Buah hatiAnak yang disayang
Ibu itu tidak berhenti menangisi buah hatinya yang hilang.
Jantung hatiOrang terkasih
Bagi Rani, lelaki itu adalah jantung hatinya.
Tangan kananOrang kepercayaan
Pak Bardo adalah tangan kanan ayahku.
Anak emasAnak kesayangan
Rihanna adalah anak emas di keluarganya.
Hati dinginSabar
Ibu selalu mendidik anak-anaknya dengan hati dingin.
Mata sapiCeplok
Anak itu sangat suka makan nasi goreng dengan telur mata sapi.
Darah biruBangsawan
Pria berjaket hitam itu adalah keturunan darah biru.
Rendah hatiTidak sombong
Dian terkenal rendah hati di lingkungan sekitarnya.
Kursi empukJabatan yang bagus
Terlena dengan kursi empuk, banyak pejabat yang lupa tugasnya.
Kabar anginTidak pasti kebenarannya
Kabar tewasnya artis cantik itu hanya kabar angin saja.
Datang bulanMenstruasi
Saat datang bulan, wanita biasanya jadi lebih sensitif.
Kepala dinginSabar
Kita harus menghadapi masalah ini dengan kepala dingin.
Meja hijauPengadilan
Pejabat itu dihadapkan ke meja hijau karena tindakan korupsi.
Si jago merahApi kebakaran
Rumah mewah itu habis dilalap si jago merah.
GugurMeninggal, tewas.
Para pahlawan gugur di medan perang.
Kursi presidenJabatan sebagai presiden
Lima pasangan capres dan cawapres berebut kursi presiden.
Kutu bukuOrang yang rajin
Taylor Swift dikenal sebagai kutu buku semasa sekolah.
Bunga desaGadis cantik yang dipuja
Diana adalah bunga desa di kampung halamannya.
Ringan tanganSuka menolong
Lelalaki itu sangan ringan tangan dan perhatian.

Konotasi Negatif

Kata/fraseMakna
Adu dombaMembuat perkelahian
Lelaki itu mengadu domba kedua wanita di sebuah pasar.
Akal bulusTipus muslihat
Aku tidak akan tertipu dengan akal bulusmu.
Besar kepalaSombong
Karena orangtuanya kaya, Reza jadi besar kepala.
Cuci tangan Enggan ikut campur
Sejumlah pejabat cuci tangan dalam masalah korupsi tersebut.
Kepala batuKeras kepala/egois
Rani akhinrya memukul adiknya yang kepala batu.
Tikus kantorKoruptor
Para tikus kantor belum dijatuhi hukuman yang setimpal.
Musuh dalam selimutOrang dekat yang berkhianat
Aku tidak menyangka bahwa kau adalah musuh dalam selimut.
Ular kepala duaPengkhianat dan penjilat
Aku tidak akan percaya pada ular berkepala dua sepertimu.
Bersilat lidahMencari alasan/berbohong
Meski sudah tetangkap basah, Tono masih terus bersilat lidah.
Kambing hitamOrang yang disalahkan
Wanita itu dijadikan kambing hitam oleh teman-teman di kelasnya.
Panjang tanganPencuri
Jadi anak jangan panjang tangan!
Berbadan duaHamil
Sebelum menikah wanita itu sudah berbadan dua.
Biang keladiPembuat onar
Ternyata kau lah biang keladi dari masalah ini.
Makan hatiJengkel/ tersiksa jiwa
Wanita itu makan hati melihat kelakuan suaminya.
Mata keranjangSuka genit melihat wanita
Dasar laki-laki mata keranjang!
Serigala berbulu dombaPura-pura baik.
Hati-hati, jangan-jangan gadis itu serigala berbulu domba.
Sapi perahOrang yang dimanfaatkan
Pria itu hanya dijadikan sapi perah oleh pacarnya.
Kutu loncatPengkhianat
Jangan menceritakan rahasiamu kepada kutu loncat.
Lintah daratRentenir
Istri kepala desa itu dikenal sebagai Lintah darat yang kejam.
Buaya daratTidak setia
Gadis itu menangis karena pacarnya buaya darat.

JENIS-JENIS MAKNA KATA DALAM BAHASA INDONESIA

JENIS-JENIS MAKNA KATA DALAM BAHASA INDONESIA

Dalam percakapan sehari-hari, seringkali kita mendengar kalimat yang mengandung sebuah atau beberapa kata dengan makna tertentu. Kata-kata tersebut terkadang mengandung makna yang berbeda dalam konteks yang berbeda pula. Dengan kata lain, terkadang arti dari sebuah kata harus disesuaikan dengan konteks kalimatnya. Beberapa kata memiliki makna yang diketahui secara umum berdasarkan pengertiannya dan ada pula kata yang maknanya timbul dan berkembang karena situasi pembicaraan.

Ketika seseorang mengatakan bahwa ia sedang makan, maka kita paham betul bahwa orang tersebut sedang memasukkan sesuatu ke dalam mulut, mengunyah, dan menelannya. Makna makan dalam kalimat tersebut kita ketahui berdasarkan pengertiannya.

Begitupula halnya ketika seseorang mengatakan bahwa ia sedang makan telur mata sapi. Kata telur mata sapi sudah secara umum diketahui maknanya yaitu telur yang digoreng secara langsung tanpa diaduk terlebih dahulu sehingga bagian kuning dan putih telurnya menyerupai mata dan diidentikkan dengan mata sapi.

Jenis-jenis Makna

Secara umum terdapat 4 jenis makna dalam bahasa Indonesia, yaitu :
  1. Makna Leksikal
    Makna leksikal merupakan makta kata berdasarkan kamus atau leksikon yang sesuai dengan referensiya. Makna kata leksikal disebut juga makna kata berdefenisi, yaitu kata yang memiliki defenisi tertentu yang diketahui secara umum.

    Menurut Chaer 1994, makna leksikal adalah makna yang sesuai dengan referennya, makna yang sesuai dengan hasil observasi alat indera, atau makna yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan kita.

    Contoh :
    • Petani di desa itu gagal panen karena serangan hama tikus.
      Kata tikus dalam kalimat di atas mengandung makna leksikal yaitu sejenis binatang pengerat yang dapat menyebabkan penyakit tifus dan merusak tanaman.

    • Anak itu selalu minum susu sebelum tidur.
      Kata minum pada kalimat di atas mengandung makna leksikal yaitu kegiatan memasukkan zat cair ke dalam mulut dan menelannya.

  2. Makna Gramatikal
    Makna gramatikal adalah makna kata yang terjadi karena proses ketatabahasaan seperti afiksasi, reduplikasi, dan komposisi.

    Contoh :
    • Batu seberat itu terangkat juga oleh adik.
      Penambahan awalan ter- pada kata angkat memberikan makna dapat dalam kalimat tersebut. Sehingga maksud dari kalimat tersebut adalah adik dapat mengangkat batu seberat itu.

    • Ketika bermain di taman, Dina terdorong ke parit.
      Penambahan awalan ter- pada kata dorong memberikan makna tidak sengaja sehingga maksud dari kalimat tersebut adalah ada seseorang atau sesuatu yang tanpa sengaja mengakibatkan Dina jatuh ke parit.

    Makna gramatikal dapat timbul karena hal berikut :
    FaktorContoh
    Bentuk kata
    • Rani duduk di kursi goyang.
    • Rani terduduk di atas tanah.
    Urutan kata
    • Tono memukul Dani.
    • Dani memukul Tono.
    Intonasi
    • Ibu memasak di dapur.
    • Ibu memasak di dapur?
    Kata tugas
    • Dian menari dan bernyanyi.
    • Dian menari atau bernyanyi.

  3. Makna Denotasi
    Makna denotasi adalah makna lugas atau makna yang sebenarnya. Makna denotasi terdiri dari satu alternatif yang artinya pasti sama menyangkut informasi faktual objektif.

    Contoh :
    • Rani sedang makan pisang goreng.
      Kalimat di atas mengandung makna yang sebenarnya yaitu Rani sedang memakan pisang yang digoreng menggunakan minyak goreng.

    • Kaki Ayah terjepit di pintu.
      Kalimat di atas mengandung makna lugas atau makna sebenarnya yaitu kaki (anggota tubuh bagian bawah yang digunakan untuk berjalan) Ayah terjepit di pintu.

  4. Makna Konotasi
    Makna konotasi adalah makna kiasan atau makna ungkapan idiomatis yang memerlukan beberapa penafsiran atau disebut juga makna tidak sebenarnya.

    Contoh :
    • Rani makan hati karena tingkah laku suaminya.
      Kata makan hati pada kalimat di atas memiliki makna kiasan yaitu tersiksa hati dan fikiran karena kelakuan suaminya yang kurang baik.

    • Kimi terkenal sebagai kutu buku di sekolahnya.
      Kata kutu buku pada kalimat di atas bukan berarti sejenis hewan yang menyerang kertas atau buku melainkan orang yang sangat rajin membaca dan sering terlihat sedang membaca.

    Makna konotasi terdiri dari dua jenis yaitu makna konotasi positif dan makna konotasi negatif. Konotasi positif adalah makna kata yang memiliki nilai rasa positif. Sebaliknya, konotasi negatif adalah makna kata yang memiliki nilai rasa negatif.
Jika dilihat berdasarkan ada tidaknya referen dari kata tersebut, makna kata terdiri dari dua jenis, yaitu :
  1. Makna Referensial
    Makna referensial adalah makna kata yang memiliki referen yaitu sesuatu di luar bahasa yang diacu oleh kata tersebut. Kata 'kursi' termasuk kata bermakna referensial karena mempunyai referen yaitu salah satu jenis perabot rumah tangga yang digunakan untuk duduk.

  2. Makna Nonreferensial
    Makna nonreferensial adalah makna kata yang tidak memiliki referen yang diacu oleh kata tersebut. Kata 'sehingga' termasuk kata yang bermakna nonreferensial karena kata tersebut tidak memiliki referen.